Semilir angin pegunungan yang sejuk menerpa wajah Siska yang tengah memandang hamparan sawah dan pepohonan hijau yang terbentang luas dihadapannya. Namun nampak jelas dimata itu hanyalah tatapan kosong seperti tanpa harapan. Seekor kupu-kupu yang terbang menghampirinya pun tak membuatnya terusik dari lamunannya.
Selengkapnyal
Selengkapnyal
Kupu-kupu itu terbang kembali dan kemudian hinggap pada setangkai bunga candytuft liar. Kepakan kedua sayapnya melambai-melambai seakan memanggil Siska untuk mengajaknya menari. Namun Siska tetap tak bergeming. Ia begitu asik tenggelam dalam masa lalunya. Kenangan manis ketika masih bersama Ferdi tiga tahun yang lalu begitu indah untuk ia lupakan.
Kusraaak...praak.. Siska terlonjak kaget ketika sebuah ranting kering jatuh tepat dihadapannya. Seketika lamunannya pudar. Ia berdiri dan memungut ranting kering yang jatuh dan hampir menimpa kepalanya itu. Lalu ia mendongak ke atas dan perlahan menyusuri batang pohon akasia yang besar dan tinggi menjulang. Pohon dimana ia tadi duduk dibawahnya. Kini matanya membentur pada sebuah gambar pada kulit pohon akasia itu. Sebuah gambar yang membentuk hati dan anak panah yang menyilang ditengahnya.
Ia ingat betul siapa pembuat gambar atau lebih tepatnya ukiran pada kulit kayu itu. Tetapi kini ukiran hati dengan anak panah yang menyilang ditengah hati itu kini tidak begitu tampak dengan jelas karena ketika Ferdi mengukirnya, pohon akasia itu masih kecil.
Kembali Siska tenggelam dalam lamunannya. Tiga tahun lalu, Dewa Amor telah memanah hatinya. Ferdi-lah yang menggores-gores kulit kayu dan membuat gambar pada batang pohon akasia itu. Ferdi, sang Dewa Amor itu begitu lembut dan sangat perhatian terhadapnya.
“Aah..” Siska melepaskan napas berat yang seakan begitu sesak menghimpit dadanya. Ia menundukkan kepalanya beberapa saat dan kemudian menegakannya kembali.
“Fer, dimana kamu sekarang, sayang ? Aku begitu merindukanmu, Fer.. Apakah kamu sudah tidak ingat lagi padaku ? Aku selalu datang kesini, ke tempat dimana pertama kali kamu mengungkapkan rasa cinta dan sayangmu padaku.” Gumamnya begitu lirih.
“Aku sangat bahagia saat itu, ketika kamu memelukku dan aku menyandarkan kepalaku ke dadamu. Saat paling berkesan dimana aku dapat menyandarkan harapanku. Saat hatiku berlabuh didaratan hatimu. Tapi kini, aku tak tahu keberadaanmu sekarang, kemana aku harus mencarimu, Fer...?” Tak terasa, kelopak mata Siska telah tergenang oleh air matanya. Air mata yang tumpah karena menahan kerinduan yang amat sangat ia rasakan.
Udara didataran tinggi itu semakin terasa dingin menusuk tulang. Siska membalikkan badannya hendak pergi meinggalkan tempat itu. Dengan langkah yang gontai ia mulai menuruni daerah perbukitan itu. Namun, baru tiga langkah ia berjalan, kembali ia menengok ke belakang. Ia menatap gambar yang sudah tidak begitu jelas terlihat karena pohon yang digoresi itu kini telah besar dan tinggi.
Langkah demi langkah ia lalui jalan setapak menuruni bukit. Bukit disekitar desa tempat ia tinggal dan dibesarkan. Hatinya luluh. Sekian lama ia menanti kekasihnya, tapi yang ia nanti-nantikan tak kunjung juga datang menemuinya.
*******
Desa Sukasarana merupakan desa yang sangat asri. Tanahnya sangat subur dengan sistem pengairan yang cukup modern. Pak Danu, adalah seorang petani yang cukup dibilang sukses. Ia mempunyai tanah sawah yang sangat luas, dan Pak Danu hanya mempunyai seorang anak tunggal. perempuan.
Sebagai anak seorang petani sukses, Siska Widianingsih termasuk kalangan yang cukup terpandang di desanya. Setelah lulus SMP, Siska melanjutkan sekolahnya di kota. Sedangkan teman-teman lain yang satu desa dengannya, melanjutkan sekolahnya di SMA yang ada di Kecamatan. Karena di desa Sukasarana hanya ada SMP.
Kerika masa orientasi di sekolahnya yang baru, Siska menjadi bulan-bulanan. Ia sering dibuly oleh kakak-kakak kelas dan juga teman-teman barunya. Siska memang cantik, pintar, sederhana dan wajahnyapun belum tersentuh yang namanya make up. Tapi kepolosan dan keluguannya tak dapat disembunyikan kalau ia berasal dari desa.
Seorang kakak kelas yang tampangnya cukup ganteng dengan tubuh atletis merasa iba melihat seorang siswi baru yang sedang diplonco oleh rekan-rekannya tampil membela Siska. Sebagai ketua Osis merangkap ketua panitia penyelenggara orientasi itu, Ferdi tidak begitu suka dengan perlakuan rekan-rekannya yang ia anggap sudah keterlaluan.
Lama kelamaan, Ferdi memberikan perhatian khusus kepada Siska meskipun masa orientasi itu sudah lama berakhir. Siska menyadari hal ini, tetapi ia tidak berpikir terlalu jauh dan ia pun belum mengenal kata cinta. Ia hanya tahu, kalau kakak kelasnya ini begitu perhatian dan sangat membela dirinya ketika teman-temannya mengolok-olok ataupun mengejek dirinya, terutama sekali Fera. Siska tidak mengerti, mengapa Fera begitu benci terhadap dirinya.
Sebagai cowok ganteng, Ferdi banyak dikejar cewek-cewek cantik dilingkungan sekolahnya tapi Ferdi tidak menghiraukan semuanya. Dan diantara cewek yang paling agresif adalah Fera. Fera tidak suka atas kedekatan Ferdi dengan Siska yang begitu lengket. Tapi Ferdi tidak suka dengan pribadi Fera yang angkuh dan sok pamer. Ferdi lebih melirik Siska yang terlihat kalem, cantik dan sederhana serta pintar pula.
*******
Waktu terus berlalu, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, hubungan keduanya semakin dekat dan akrab. Dan ketika masa liburan tiba, Ferdi mengajak Siska berlibur ke suatu tempat hiburan, namun Siska mengusulkan untuk berlibur ke desanya. Tak disangka, Ferdi langsung setuju atas usul Siska. Jadilah mereka berangkat ke desa Sukasarana.
Keluarga pak Danu menyambut baik kedatangan Ferdi. Bu Ranti, ibunya Siska menempatkan Ferdi di kamar kosong yang biasa diperuntukan bagi tamu yang menginap.
Ferdi sangat terkesan dengan keluarga Siska yang begitu bersahaja. Terlihat dari cara menyambut dan memperlakukan tamu serta perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari sangat dikagumi oleh Ferdi.
Suasana desa yang begitu sejuk dan asri membuat Ferdi sangat betah tinggal di sana. Setiap hari ia diajak oleh siska ke sawah milik bapaknya. Besok harinya ke kebun dan hari-hari lainnya ke tempat-tempat dengan pemandangan alam yang belum pernah dikunjungi Ferdi. Tak terasa ia sudah hampir satu minggu tinggal di desa Siska. Besoknya hari Minggu, Ferdi dan juga Siska sudah harus kembali ke kota karena lusa sudah mulai masuk sekolah.
Pada hari Sabtu sebelum kembali ke kota, Siska mengajak Ferdi ke perbukitan disekitar desa untuk melihat-lihat pemandangan dari dataran tinggi. Dan Ferdi pun tak menolaknya. Setelah sampai dipedataran yang dirasa cukup tinggi, Siska menuju sebatang pohon akasia dan berhenti di sana. Lalu ia duduk dibawah pohon itu. Ferdi menghampiri dan duduk pula disampingnya. Mereka sama-sama memandang hamparan sawah hijau nun jauh di sana sambil bercakap-cakap.
Lama mereka mengobrol ke sana kemari, lalu Ferdi berdiri dan mengeluarkan pisau lipat yang selalu dibawanya. Lalu dengan pisau itu ia mengukir sebuah gambar hati dengan anak panah yang menusuk tepat ditengah gambar hati itu. Selesai mengukir gambar itu, Ferdi mengamatinya sejenak, kemudian ia memutar badannya dan menghadap Siska. Lalu kedua tangannya memegang kedua pundak Siska dan mata Ferdi menatap tajam tepat ke mata Siska dan lalu ia berkata ; “Siska, entah bagaimana dengan perasaanmu tapi yang ada dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat mencintaimu dan menyayangimu. Jika kamu berkenan menerima cinta dan sayangku, aku akan sangat bahagia sekali, Siska. Dan aku berjanji untuk terus merawat dan memupuk rasa cintaku ini hanya selalu untukmu. Bagaimana denganmu, Siska ?”
Siska terdiam dan tertunduk. Ia tak pernah menyangka sama sekali akan secepat ini Ferdi mengungkapkan isi hatinya. Hatinya tak menyangkal sedikitpun kalau ia juga sangat menyukai dan mencintai laki-laki tampan kakak kelasnya ini. Tapi untuk ia belum siap dan belum mengerti sepenuhnya arti cinta. Ia baru saja naik ke kelas dua SMA.
Ferdi mengangkat dagu Siska yang terus menunduk seraya berkata ; “Kamu tak perlu menjawab sekarang, besok atau lusa atau kapanpun kamu siap, aku tunggu jawabanmu, Siska...”
“Jika kamu ijinkan, aku minta waktu, Fer ?” Pinta Siska.
“Sudah kubilang, kapanpun kamu siap, Siska..” Jawab Ferdi mantap.
“Terima kasih atas pengertianmu, Fer...” Lanjut Siska dan tak kuasa menahan titik air matanya untuk tidak jatuh.
Ferdi memeluk Siska. Hatinya merasa terenyuh. Ia tak kuasa menekan Siska untuk segera mendengar jawaban dari Siska.
“Maafkan aku, Fer. Aku tidak bermaksud menyakitimu tapi aku hanya belum siap aja...” Ucap Siska.
“Tak apa-apa, Sis. Sebaiknya kita pulang sekarang, kita siap-siap dan berkemas untuk besok pulang....!” Ajak Ferdi. Siska mengangguk dalam pelukan Ferdi. Lalu Ferdi menggandeng tangan Siska dan berjalan menuruni bukit itu.
*******
Kegiatan belajar mengajar telah berlangsung seperti biasa. Mereka tampak akrab dan terlihat mesra jika di luar jam belajar. Kebersamaan mereka berdua tak dapat tidak, membuat siswa siswi lain merasa cemburu dengan kemesraan mereka. Tapi mereka acuh tak acuh dengan sikap dan pandangan mereka.
Waktu berjalan terasa begitu cepat, hingga tak terasa hampir satu tahun kebersamaan mereka berdua dilalui dengan manis dan indah. Dan tibalah masa ujian akhir untuk kenaikan kelas. Semua siswa dan siswi sibuk belajar mempersiapkan diri termasuk Ferdi dan Siska. Apalagi Ferdi. Ia bercita-cita meneruskan studinya di salah satu Universitas di Yogyakarta.
Ujian dilaksanakan dalam waktu satu minggu. Selesai ujian, Ferdi jadi semakin sibuk mengurus pendaftarannya ke Universitas. Ia jadi jarang bertemu Siska. Ditambah lagi, orang tua Ferdi yang seorang perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel, ditugaskan ke pulau Sumatra untuk promosi jabatannya.
Tapi Ferdi seorang yang memegang janjinya. Sesibuk apapun, ia masih rela menyempatkan diri untuk menemui Siska hanya sekedar untuk berbincang-bincang. Siska sangat senang dikunjungi oleh Ferdi meskipun ia belum juga memberi jawaban untuk Ferdi. “Tunggulah saatnya nanti, Fer....” Bisik Siska dalam hatinya.
Disela kesibukannya kuliah, Ferdi mengunjungi Siska yang ketiga kalinya. Tapi kali ini, Ferdi tidak seperti biasanya. Ia terlihat sangat letih, pucat dan tidak banyak bicara. “Fer, apa kamu sakit ?” Tanya Siska memandang Ferdi dengan sedikit heran.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik aja, kok...” Jawab Ferdi.
“Tapi, kamu kok kelihatan....”
“Sudahlah, ga usah kamu pikirin !” Tukas Ferdi mengalihkan pembicaraan.
“Ah, yang benar ? Yakin kamu ga apa-apa ? Desak Siska.
Iya, aku ga apa-apa...” Sahut Ferdi meyakinkan Siska. Lalu ia bercerita kepada Siska, kalau ia seperti mimpi berada di suatu tempat dengan hamparan hijau dan cahaya yang terang berderang dikejauhan. Ia bercerita dengan wajah yang sedikit menunduk dan tampak murung. Ia mengatkan kepada Siska, bahwa ia tidak akan ke Yogakarta, tapi akan ke pulang dulu ke Sumatra menemui kedua orang tuanya. Tak lama kemudian ia pamit pulang.
Entah mengapa, Siska merasa sangat berat untuk melepas kepergian Ferdi. Ia begitu ingin mengatakan kepada Ferdi bahwa ia sangat mencintainya dan setiap saat selalu merindukannya. Tapi Ferdi tak pernah mendengar, karena ucapan itu tersangkut ditenggorokannya. Dan Ferdi sudah tak tampak lagi dihadapannya. Ia telah hilang dari pandangannya. Dan pertemuan itulah terakhir kalinya Siska berjumpa dan menatap Ferdi.
Ferdi tak sampai menemui kedua orang tuanya. Tuhan mempunyai rencana lain yang merupakan rahasia dan misteri yang tak kan mungkin terpecahkan oleh manusia. Dalam perjalanannya menuju Sumatra, Ferdi merasa sangat lelah, kemudian ia beristirahat di suatu masjid. Setelah menunaikan shalat dzuhur, lalu ia duduk bersila sambil terus berdzikir, sampai kemudian kepalanya tertunduk dan tak bergerak-gerak untuk selamanya.....
-----oo0oo-----

No comments:
Post a Comment